kisah-kisah santri mengandug hikmah
Jumat, 23 Agustus 2013
kisah 500 sntridan payung
Alkisah, di satu desa, sudah sangat lama tidak turun hujan, sumber air mulai mengering dan penduduk mulai mengeluh. Rapat desa memutuskan untuk meminta seorang kyai bersama para santrinya untuk memimpin shalat istisqa' (shalat minta hujan) dan doa-doa.
Terkumpullah 500 orang santri bersiap shalat istisqa' dan memanjatkan doa dipimpin oleh sang kyai. Dari 500 orang santri tersebut semuanya memegang kitab suci Al Quran, tetapi uniknya dari 500 orang santri tersebut hanya ada 1 orang yang membawa kitab suci dan ... payung !!
Tentunya sang kyai juga membawa payung. Melihat fenomena tersebut, sang kyai hanya tersenyum. Sesuai shalat istisqa' dan doa bersama, sang kyai menguji sang santri yang membawa payung tersebut, "saya perhatikan dari 500 santri ini hanya kamu yang bawa payung, kenapa?"
Sang santri menjawab, "karena saya yakin hujan akan turun".
---
Apa hikmah yang bisa kita petik dari kisah diatas?
Sederhana ...
Selama ini kita begitu gigihnya berjuang, "fight", ber-jibaku demi mengejar kesuksesan. Siang hari kita bekerja penuh semangat dan antusiasme, di malam hari kita berdoa kepada Tuhan.
Tetapi ...
Perlu juga sekali-kali kita menguji diri kita sendiri, dengan mengajukan pertanyaan "apakah kita yakin kita akan sukses?" Lalu persiapan "payung" apa yang sudah kita bawa sejak saat ini?
Teman saya sibuk membangun garasi dan carport di rumahnya, padahal kemana-mana dia masih pakai motor. Ramai tetangga membicarakan gelagatnya, namun teman saya ini hanya menjawab, "Kan saya yakin bakalan punya mobil dalam waktu dekat". Yaak ... dia memang ada bisnis yang dikerjakan dan dia pun berdoa dengan khusyuk dan memang dia berencana akan membeli mobil (maklum anaknya 3, nggak muat diangkut semua pakai motor kan?).
Lalu,
Pertanyaannya ....
Sejauh mana tingkat keyakinan kita terhadap usaha-usaha mengejar sukses yang kita lakukan selama ini?
"Payung" apa saja yang sudah kita persiapkan sejak saat ini?
Yuuk, Silahkan dipersiapkan "payung" masing-masing. Semoga Tuhan berkenan mengabulkan doa-doa kesuksesan kita.
Sebab suksesnya kita adalah bukan untuk diri kita sendiri, melainkan suksesnya kita adalah sebuah amanat untuk berbagi dan membantu orang-orang lain untuk bisa sukses juga.
---by kisah kisah santri
Kisah Kyai Kampung Lawan Santri Liberal
Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.
Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.
Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab santri liberal ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.
Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” Santri liberal ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab santri liberal.
Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. Sang santri liberal menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal.
Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab santri: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab santri liberal ini.
Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.
(Mukhlas Syarkun)
: Dilema seorang Santri
kisah santri| 14 December 2012
Suatu hari (ah… seperti dongeng anak-anak saja)…. Tapi betul
koq, kisah ini berawal pada suatu hari di penghujung Juni 2008 yang
panas, ketika sang mentari tanpa iba membakar kulitku, hingga peluh
bercucuran tanpa ampun, seorang pemuda mendekatiku. Dari penampilannya
aku segera dapat menebak, dia seorang mahasiswa. Setelah berbasa-basi
agak lama, kami terlibat pembicaraan yang sangat serius.
Entah angin dari mana pembicaraan kami menjurus pada curhat. Ya, sang mahasiswa itu curhat kepada saya, seseorang yang nota bene baru saja dikenalnya. Ingat akan petuah dari leluhur, “Jejering satriya tama, aja golek senenge dewe, ning kudu bisa gawe senenging liyan” (Seorang ksatria jangan mencari kesenangan pribadi, namun harus bisa membuat orang lain bahagia/senang), maka curhatnya saya tanggapi dengan senang hati. Seluruh pendengaran dan perhatian saya curahkan kepadanya tanpa memperdulikan tetes-tetes keringat yang masih saja mengganggu konsentrasiku.Singkatnya, dia curhat permasalahannya yang cukup pelik. Dia seorang mahasiswa sekaligus seorang santri di sebuah pondok pesantren di kota Jogja. Apa masalah yang sedang dihadapinya? Apakah tidak mempunyai uang untuk membayar kuliah? Dimarahi orang tuanya karena tidak kunjung lulus kuliah? Terancam DO dari universitas? Wow.. ternyata bukan semua itu yang membuatnya galau. Masalahnya satu : dia jatuh cinta pada seorang wanita.
Mungkin anda akan berteriak “alamaaak…. masalah sepele….” atau terikan lain yang bernada meremehkan masalah yang sedang dia hadapi! Ternyata permasalahannya tidak sesederhana yang anda kira. Memang benar dia sedang jatuh cinta dengan seorang wanita, perjalanan cintanya juga datar-datar saja, sang wanita seorang perawan dan dia sendiri masih jejaka. Perjalanan cintanya juga tidak melanggar norma-norma kepantasan, apalagi melanggar syariat Islam. Lantas apa yang menjadikannya galau, sampai-sampai harus mengorbankan harga dirinya berani curhat pada saya, orang yang baru dikenalnya?Dia membeberkan, bahwa semenjak jatuh cinta dengan wanita yang dikenalnya, seakan-akan berada dalam persimpangan jalan yang tiada berujung. Sisi hatinya mengatakan, dia harus menyelesaikan kuliah dan nyantri di Pondok Pesantren sekarang. Menurut pendapat pribadinya “Dilarang jatuh cinta sebelum selesai pendidikan di pesantren!” Namun sisi hatinya yang lain mengatakan “Sebagai manusia biasa dan sudah cukup umur, maka boleh-boleh saja jatuh cinta pada wanita”.
Hal inilah yang membuatnya galau, bila malam telah merayap memeluk siang, hatinya semakin galau dan gelisah, mana yang harus dipilih : melanjutkan cintanya dengan resiko membuyarkan pendidikan di pesantren ataukah meninggalkan wanita pujaannya demi pendidikan? Saat mengatakan hal ini kulihat matanya menerawang jauh tanpa ekspresi, berulangkali nafasnya yang berat semakin menyesakkan dadanya. Sekejap kami asyik dalam diam, namun segera kutatap mata dan wajahnya yang memelas.
“Dik, apa yang membuatmu gelisah kalau kamu bisa mengadukan semua ini kepada Alloh melalui sholat istikharahmu?” ucapku pelan membuyarkan lamunannya.
“Justru itu mas yang membuatku semakin gelisah, sampai saat ini saya belum berani sholat istikharah”, jawabnya pelan.
“Kenapa tidak berani?” timpalku.
“Aku takut bila Alloh memberikan keputusan supaya melanjutkan nyantri di pesantren. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi. Aku tidak mau meninggalkan dia, mas”, jawabnya semakin memelas.
Saya kembali diam, mungkin pembaca bisa saja menebak saya akan menjawab “Lho, berarti anda sudah punya pilihan dong…. yaitu meneruskan kisah cintanya dan meninggalkan pesantren”. Namun kalimat itu tidak akan saya ucapkan. Sebagai seorang yang pernah nyantri di pesantren saya tahu betul permasalahan ini sangat berat. Santri yang jatuh cinta pada wanita di tengah-tengah pendidikan pesantren adalah cobaan yang sangat berat, bukan masalah yang sepele. Saya tatap sekali lagi matanya yang sayu.
“Dik, apakah kamu bahagia menjadi seorang santri?” perntanyaanku mengalihkan sementara dari topik utama pembicaraan kami.
“Sangat suka mas, karena itu cita-cita saya sejak kecil”, jawabnya mantab. Wajah yang tadi layu, kuyu, dan nampak sekali gurat-gurat kegundahan, mendadak berubah ceria.
“Lantas, apakah adik juga bercita-cita menjadi seorang kyai, atau paling tidak menjadi seorang ustadz?” tanyaku sejurus kemudian.
“Iya mas, saya mempunyai keinginan seperti itu, paling tidak menjadi ustadz di desa asal sana. Saya ingin membenahi masyarakat yang menurut saya sangat jauh dari nilai-nilai agama”, jawabnya semakin bersemangat.
“Benar itu cita-cita panjenengan?”
“Iya mas, itu cita-cita saya”
“Apakah cita-cita itu masih menghujam kuat di hatimu?”
“Masih mas, sampai sekarang cita-cita itu tetap tertancap kuat di hati saya”.
Saya tersenyum mendengar jawabannya. Dengan keberanian yang luar biasa, aku dekati dia dan kupeluk pundaknya dengan penuh kasih sayang. Kutatap lebih dalam mata dan wajahnya yang mulai berbinar.
“Dik, apakah sebagai seorang santri kamu juga percaya bahwa Alloh pasti mendatangkan jodoh untukmu?”
Mendadak dia menatap wajahku dengan tatapan yang tak kuketahui maknanya, hanya senyum manis di ujung bibirnya yang kutangkap apa artinya. Dia memelukku semakin erat. Kubiarkan tangannya yang kekar melingkar di pundakku. Pelukannya semakin erat, erat dan erat, hingga aku tersadar ada sebuah tetes bening membasahi punggungku. Sebuah suara lirih sayup-sayup terdengar “Terima kasih mas, aku telah menemukan jalan keluarnya…..”
Setelah puas menumpahkan perasaannya, dia mohon pamit ingin pulang ke pesantrennya. Kuiringi kepergiannya dengan tatapan bahagia sampai dia menghilang di antara hiruk-pikuk orang-orang yang bergegas berjalan. Angin yang lembut seakan mengusir gerahnya badanku, namun kebahagiaan yang kurasakan siang itu, jauh membahagiakan hatiku, karena sudah membantu memecahkan permasalahan seseorang, meskipun saya tidak mengenal dirinya…….
Penghujung Juni 2008, di pinggir jalan Wates. Teriring salam untuk Mas MY di sana
Entah angin dari mana pembicaraan kami menjurus pada curhat. Ya, sang mahasiswa itu curhat kepada saya, seseorang yang nota bene baru saja dikenalnya. Ingat akan petuah dari leluhur, “Jejering satriya tama, aja golek senenge dewe, ning kudu bisa gawe senenging liyan” (Seorang ksatria jangan mencari kesenangan pribadi, namun harus bisa membuat orang lain bahagia/senang), maka curhatnya saya tanggapi dengan senang hati. Seluruh pendengaran dan perhatian saya curahkan kepadanya tanpa memperdulikan tetes-tetes keringat yang masih saja mengganggu konsentrasiku.Singkatnya, dia curhat permasalahannya yang cukup pelik. Dia seorang mahasiswa sekaligus seorang santri di sebuah pondok pesantren di kota Jogja. Apa masalah yang sedang dihadapinya? Apakah tidak mempunyai uang untuk membayar kuliah? Dimarahi orang tuanya karena tidak kunjung lulus kuliah? Terancam DO dari universitas? Wow.. ternyata bukan semua itu yang membuatnya galau. Masalahnya satu : dia jatuh cinta pada seorang wanita.
Mungkin anda akan berteriak “alamaaak…. masalah sepele….” atau terikan lain yang bernada meremehkan masalah yang sedang dia hadapi! Ternyata permasalahannya tidak sesederhana yang anda kira. Memang benar dia sedang jatuh cinta dengan seorang wanita, perjalanan cintanya juga datar-datar saja, sang wanita seorang perawan dan dia sendiri masih jejaka. Perjalanan cintanya juga tidak melanggar norma-norma kepantasan, apalagi melanggar syariat Islam. Lantas apa yang menjadikannya galau, sampai-sampai harus mengorbankan harga dirinya berani curhat pada saya, orang yang baru dikenalnya?Dia membeberkan, bahwa semenjak jatuh cinta dengan wanita yang dikenalnya, seakan-akan berada dalam persimpangan jalan yang tiada berujung. Sisi hatinya mengatakan, dia harus menyelesaikan kuliah dan nyantri di Pondok Pesantren sekarang. Menurut pendapat pribadinya “Dilarang jatuh cinta sebelum selesai pendidikan di pesantren!” Namun sisi hatinya yang lain mengatakan “Sebagai manusia biasa dan sudah cukup umur, maka boleh-boleh saja jatuh cinta pada wanita”.
Hal inilah yang membuatnya galau, bila malam telah merayap memeluk siang, hatinya semakin galau dan gelisah, mana yang harus dipilih : melanjutkan cintanya dengan resiko membuyarkan pendidikan di pesantren ataukah meninggalkan wanita pujaannya demi pendidikan? Saat mengatakan hal ini kulihat matanya menerawang jauh tanpa ekspresi, berulangkali nafasnya yang berat semakin menyesakkan dadanya. Sekejap kami asyik dalam diam, namun segera kutatap mata dan wajahnya yang memelas.
“Dik, apa yang membuatmu gelisah kalau kamu bisa mengadukan semua ini kepada Alloh melalui sholat istikharahmu?” ucapku pelan membuyarkan lamunannya.
“Justru itu mas yang membuatku semakin gelisah, sampai saat ini saya belum berani sholat istikharah”, jawabnya pelan.
“Kenapa tidak berani?” timpalku.
“Aku takut bila Alloh memberikan keputusan supaya melanjutkan nyantri di pesantren. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi. Aku tidak mau meninggalkan dia, mas”, jawabnya semakin memelas.
Saya kembali diam, mungkin pembaca bisa saja menebak saya akan menjawab “Lho, berarti anda sudah punya pilihan dong…. yaitu meneruskan kisah cintanya dan meninggalkan pesantren”. Namun kalimat itu tidak akan saya ucapkan. Sebagai seorang yang pernah nyantri di pesantren saya tahu betul permasalahan ini sangat berat. Santri yang jatuh cinta pada wanita di tengah-tengah pendidikan pesantren adalah cobaan yang sangat berat, bukan masalah yang sepele. Saya tatap sekali lagi matanya yang sayu.
“Dik, apakah kamu bahagia menjadi seorang santri?” perntanyaanku mengalihkan sementara dari topik utama pembicaraan kami.
“Sangat suka mas, karena itu cita-cita saya sejak kecil”, jawabnya mantab. Wajah yang tadi layu, kuyu, dan nampak sekali gurat-gurat kegundahan, mendadak berubah ceria.
“Lantas, apakah adik juga bercita-cita menjadi seorang kyai, atau paling tidak menjadi seorang ustadz?” tanyaku sejurus kemudian.
“Iya mas, saya mempunyai keinginan seperti itu, paling tidak menjadi ustadz di desa asal sana. Saya ingin membenahi masyarakat yang menurut saya sangat jauh dari nilai-nilai agama”, jawabnya semakin bersemangat.
“Benar itu cita-cita panjenengan?”
“Iya mas, itu cita-cita saya”
“Apakah cita-cita itu masih menghujam kuat di hatimu?”
“Masih mas, sampai sekarang cita-cita itu tetap tertancap kuat di hati saya”.
Saya tersenyum mendengar jawabannya. Dengan keberanian yang luar biasa, aku dekati dia dan kupeluk pundaknya dengan penuh kasih sayang. Kutatap lebih dalam mata dan wajahnya yang mulai berbinar.
“Dik, apakah sebagai seorang santri kamu juga percaya bahwa Alloh pasti mendatangkan jodoh untukmu?”
Mendadak dia menatap wajahku dengan tatapan yang tak kuketahui maknanya, hanya senyum manis di ujung bibirnya yang kutangkap apa artinya. Dia memelukku semakin erat. Kubiarkan tangannya yang kekar melingkar di pundakku. Pelukannya semakin erat, erat dan erat, hingga aku tersadar ada sebuah tetes bening membasahi punggungku. Sebuah suara lirih sayup-sayup terdengar “Terima kasih mas, aku telah menemukan jalan keluarnya…..”
Setelah puas menumpahkan perasaannya, dia mohon pamit ingin pulang ke pesantrennya. Kuiringi kepergiannya dengan tatapan bahagia sampai dia menghilang di antara hiruk-pikuk orang-orang yang bergegas berjalan. Angin yang lembut seakan mengusir gerahnya badanku, namun kebahagiaan yang kurasakan siang itu, jauh membahagiakan hatiku, karena sudah membantu memecahkan permasalahan seseorang, meskipun saya tidak mengenal dirinya…….
Penghujung Juni 2008, di pinggir jalan Wates. Teriring salam untuk Mas MY di sana
Kisah Santri Kabel Senjata
asik mencuci nampan.
Dia baru saja selesai memasak dan bersiap untuk sarapan. Hari ini
adalah hari jum'at,di mana para santri libur mengaji.
Tapi ketika sedang asik dengan kesibukanya,tiba-tiba si badrun teman
kang bahlul datang. Dengan berlari kecil dan nafas agak ngos-ngosan
dia menemui kang bahlul.
"kang...di panggil abah..".kata badrun.
"wah...tumben abah manggil aku. Emangnya ada apa drun?". Tanya kang
bahlul penasaran.
"waduh...gak tau juga aku kang. Yang penting sampean segera temui abah
saja langsung".
"ok drun,tapi tunggu bentar ya. Aku mau sarapan dulu,nanggung sudah
nyuci nampan;.
"Terserah sampean aja lah kang,yang penting amanat abah sudah saya sampaikan".
"sip drun,makasih ya...".
"sama-sama kang,kalau gitu saya pamit dulu ya kang. Mau nyuci
baju.wassalamu'alaikum..".kata badrun berpamitan.
"wa'alaikum salam...".jawab kang bahlul.
Setelah selesai sarapan,kang bahlul pun menghadap pak kyai atau biasa
di panggil para santri dengan abah.
Setelah mengucapkan salam,kang bahlul pun di persilahkan duduk. Dan
abah pun menjelaskan alasan dia di panggil.
"Begini lul,ini kan hari libur.Aku mau nyuruh kamu pergi ke kota
sebentar,buat beli cangkul sama sabit di pasar.Soalnya besok mau
panen".kata abah.
Kang bahlul pun menyambutnya dengan antusias.
Setelah menyanggupi,kang bahlul pun pamit undur diri dan ke kamar
untuk ganti baju.
Sungguh suatu momen yang langka santri bisa keluar pesantren,apa lagi
turun ke kota.Kang bahlul pun berdandan dengan necis.Pakai baju
keren,rambut berminyak kelimis,tak lupa pakai jaket kulit
kesayangan,tapi ya...tetep pakai sarung dan peci.Maklum...itu kan yang
menunjukan jati diri santri...hehehe...
Singkat cerita...setelah sampai di kota kang bahlul pun segera menuju
ke tempat tujuan.Setelah membeli beberapa cangkul dan parang,kang
bahlul pun langsung cabut.
Tapi karena rada malu membawa cangkul dan parang karena penampilanya
sudah necis,ahirnya muncul ide nyeleneh di otak kang bahlul.
Jadi..parang dan cangkul dia sembunyikan di balik bajunya.Parang dia
ikat di kedua tangan sedankan cangkul dia selipkan di perut dan di
gantungkan di leher dengan tali.Kemudian dia tutupi dengan jaketnya..
"nah...kalau gini kan sudah aman..".fikir kang bahlul.
Tapi...Waktu kang bahlul mau berjalan pulang,dia di hadang oleh dua
orang preman.Kang bahlul di palak oleh kedua preman itu,tapi karena
memang tak punya uang kang bahlul pun tak mau memberi.
Merasa korbanya melawan,tiba-tiba salah satu preman mengeluarkan pisau
dan berusaha menusuk kang bahlul.
Karena terkejut dan ketakutan,kang bahlul hanya bisa memejamkan mata
dengan spontan.Karena tak bisa apa-apa,kang bahlul sudah pasrah pada
takdir.
Tapi ketika pisau itu mengenai perut kang bahlul,gantian premanya yang
terkejut.Karena pisau yang dia tusukan tak mampu menembus tubuh kang
bahlul.
Dia coba menusuk berkali-kali,tapi tiap pisau itu mengenai perut kang
bahlul...yang terdengar hanya suara..ting...! Ting...!
Seperti besi yang beradu.
Melihat kenyataan itu,nyali para preman pun mulai menciut.Tanpa
menunggu aba-aba keduanya pun mulai berlari meninggalkan kang bahlul
yang masih terpejam dengan tubuh gemetar karena ketakutan.
Tanpa di sengaja,ternyata ada seorang warga yang melihat kejadian itu.
"Wah...edan...ternyata anak santri itu kebal..".Fikir orang itu.
Ketika kang bahlul membuka mata,dia hanya bisa melongo keheranan
karena dua preman yang tadi menghadangnya sudah hilang.
Dengan wajah heran bercampur bingung karena dia tak tau apa yang
sebenarnya terjadi,kang bahlul pun meneruskan perjalanan pulang ke
pesantren.Sesampainya di pesantren,dia langsung menemui abah dan
menyerahkan cangkul dan parang yang tadi dia beli.Kemudian kang balul
ke kamar,mandi,dan berangkat solat jum'at seperti tak pernah mengalami
kejadian apa-apa.
Tapi kehebohan terjadi di luar area pesantren.
Berita dengan cepat tersebar dan membuat warga gempar.
Karena tersebar berita bahwa para santri itu kebal senjata,jadi jangan
macam-macam dengan mereka.
Dan mulai saat itu,tak pernah ada lagi yang berani mengganggu para santri.
Karena title "kebal" yang di sandangnya...hehehe..
Hikmah dari kisah ini adalah...
Cuma sekedar cerita humor dan nilai positive yang dapat di ambil
adalah,apapun yang menimpa kalian...jangan pernah lupa untuk
berdo'a,bertawakal,dan bersabar.Karena ada kalanya pertolongan allah
bisa datang dari hal yang sama sekali tak kita duga... :)
Selasa, 30 Juli 2013
engertian Nahwu Shorof
NAHWU adalah
kaidah-kaidah Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan
keadaan-keadaannya ketika masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah
tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan SHOROF.
Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada
pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya.
Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.
Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.
Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).
Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:
1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.
Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.
Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.
Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.
Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.
Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.
Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.
Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).
Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:
1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.
Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.
Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.
Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.
Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.
Pelajaran selanjutnya →
Pembahasan Kata Kerja- Fiil Madhi, Fiil Mudhori’, Fiil Amar
- Isim Fiil
- Isim Aswat
- Mujarrod dan Mazid
- Jamid dan Mutashorrif
- Hamzah Washal dan Hamzah Qotho’
- Shahih dan Mu’tal
- Tam dan Naqis
- Lazim dan Muta’addi
- Mabni Ma’lum dan Mabni Majhul
- Pembahasan Taukid dan Hubungannya
- Mu’rob dan Mabni
- Fi’il Nashab dan letaknya
- Fi’il Jazm dan letaknya
- Fi’il Rofa’ dan letaknya
- I’rob Takdir Kalimah Fiil
Anak santri Yang Takut Neraka
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai kake.. saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."
Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak santri ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?" by kisah kisah santri
Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.
Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.</p>
Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.
Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.
Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa.” Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Ahmad Sidiq.
Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya).
Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.
Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. by imam muslihin
Langganan:
Postingan (Atom)

